Fakta Atas Perbedaan Bumi Dulu dengan Bumi Kini !

Bumi ini masih saja menjadi satu-satunya planet di Galaksi Bima Sakti yang mana sudah diakui menjadi tempat teraman dan juga sangat ternyaman yang bisa saja dihidupi oleh umat manusia. Bumi sendiri memiliki oksigen – lalu Air dan juga seluruh makhluk hidup lainnya yang memang bisa saja membuat manusia melangsungkan kehidupannya. 50 tahun yang lalu, pada tanggal 22 April tahun 1970, maka jutaan orang turun ke jalan pada Hari Bumi Pertama, menuntut adanya udara bersih perlindungan lingkungannya. Disini partisipasi dari warga besar-besaran, sekitar 10% dari adanya populasi Amerika Serikat pada saat itu, mengarah saja pada undang-undang Udara bersih dan undang-undang perlindungan dari lingkungan lainnya. Kemudian pada akhirnya di setiap tahun pada tanggal 22 April, Hari Bumi menandai peringatan kelahiran gerakan lingkungan Modern pada tahun 1970. 

Hari Bumi tahun 1970 sudah menyuarakan kesadaran publik yang muncul saja tentang keadaan planet kita. Perubahan dari Iklim ini terus saja sering terjadi seiring atas waktu akibat adanya pemanasan global yang dipicu kehidupan untuk era industrinya. Lalu bagaimana dalam keadaan bumi dahulu dibandingkan sekarang akibat dari adanya pemanasan Global ? untuk itu ada beberapa fakta yang mendukung atas perbedaan bumi dulu dengan bumi kini. Fakta ini kami kutip dari salah satu sumber yakni merdeka.com, jadi langsung saja lihat detail faktanya di bawah ini : 

Peningkatan Suhu Bumi Selalu Terjadi 

Dari situs Wired, San Francisco, British Columbia dan juga Delhi yang dikutip oleh situs merdeka.com, semuanya telah melaporkan rekor suhu sepanjang bulan Juni pada tahun 2019, dimana telah menunjukkan adanya gelombang panas mulai terjadi lagi di belahan bumi Utara pada musim panas ini. Dan pada tahun 2018 silam, negara Inggris sudah mengalami musim panas sejak tahun 2006 dan Studi Ilmiah  ke dalam data tahun 2018 menunjukkan bahwa Gelombang panas saat ini sudah sebesar 30 kali lebih akibat dari perubahan iklim. 

Namun dari negara-negara Subtropis  ini tak hanya mengalami kenaikan suhu di musim panas saja. Temperatur 21,2 derajat Celcius di rekam langsung di Kew Gardens London pada tanggal 26 Februari tahun 2019. Dan ini sudah menjadi hari musim dingin namun terpanas yang pernah dialami oleh negara Inggris. Salah satu efek yang dikatakan cepat serta nyata adalah adanya pemanasan Global pada peningkatan suhu yang ada di seluruh dunia. Suhu Global ini rata-rata sudah meningkat sekitar 1,4 derajat F atau 0,8 derajat Celcius dalam kurun waktu 100 tahun terakhir. Informasi ini didapati dari Administrasi Kelautan maupun Atmosfer Nasional atau NOAA. 

Sejak adanya pencatatan yang dimulai pada tahun 1895, dimana ini menjadi tahun terpanas di rekor dunia yakni pada tahun 2016. Dan menurut dari data NOAA dan juga NASA. tahun itu suhu pada permukaan bumi mencapai 1,78 derajat F atau 0,99 derajat C. berarti ini lebih hangat dari rata-rata di seluruh abad ke-20. 

Menurunnya Populasi Satwa Liar 

Ukuran atas rata-rata pada populasi Vertebrata seperti : Mamalia – Ikan – Burung dan juga Reptil, seketika menurun sebesar 60% di antara tahun 1970 dan juga tahun 2014. Hal ini kami kutip dari situs merdeka.com yang aman dilansir juga dari Living Planet Report. Hal ini bukan berarti dari total populasi hewan sudah menurun sampai dengan 60%, dikarenakan laporan ini sudah membandingkan penurunan relatif dari populasi hewan yang berbeda. Bayangkan saja, jika populasi dari 10 badak yang mana 9 dari badak ini mati maka akan ada penurunan Populasi sebesar 90%. 

Masukan ini ke dalam populasi 1.000 burung pipit yang mana 100 dari mereka seketika mati, maka 10% akan mengalami penurunan. Penurunan atas rata-rata populasi dari kedua kelompok hewan ini akan berlangsung menjadi 50% meskipun, sudah kehilangan Individunya sebesar 10,08 %. Apapun cara kalian menumpuk angkanya, maka perubahan dari iklim jelas saja menjadi faktor dalam hal ini. Nah sebuah panel ilmuwan internasional yang sudah didukung oleh PBB mengeluarkan pendapat bahwa perubahan dari iklim sudah memainkan peran yang meningkat dalam mendorong spesies menjadi punah. 

Hal ini sudah dianggap sebagai pendorong terbesar ketiga hilangnya keanekaragaman hayati setelah perubahan dari penggunaan lahan maupun laut, serta dari eksploitasi sumber daya yang berlebihan. Bahkan di bawah skenario pemanasan 2 derajat C, ada 5% Spesies hewan maupun tumbuhan yang akan menghadapi resiko kepunahan. Terumbu karang juga sangat amat rentan terhadap sebuah peristiwa pemanasan yang ekstrem. 

Ternyata Atmosfer memiliki Jumlah Karbondioksida Terbanyak 

Waktu Bulan Mei silam, sensor yang ada di observatorium Mauna Loa di Hawai, sudah melacak adanya konsentrasi atas Atmosfer CO2 di bumi dari akhir tahun 1950 an. Mendeteksi sudah konsentrasi atas CO2 sebanyak 415,26 ppm. Ini menjadi peningkatan sebesar 46% dari sebelum Revolusi Industri pada tahun 1800 an. Ketika tingkat dari CO2 sekitar 280 bagian per jutanya. Tingkat mulai meningkat lagi ketika manusia sudah mulai untuk membakar sejumlah bahan bakar fosil hanya untuk menjalankan pabrik dan juga memanaskan rumah, melepaskan adanya CO2 dan gas rumah kaca lainnya ke atmosfer. 

Terakhir kalinya atmosfer di bumi sudah mengandung COO2 sebanyak lebih dari 300 juta tahun lalu, pada saat permukaan laut beberapa meter jauh lebih tinggi dan pohon-pohon justru mulai tumbuh di daerah Kutub Selatan. Para Ilmuwan juga sudah memperingatkan bahwa jika kadar dari Karbon Dioksida ini jauh lebih tinggi 450 ppm kemungkinan sudah akan mengunci perubahan atas bencana  dan juga keadaan tidak akan pernah bisa kembali dalam iklim. Sekitar setengah dari CO2 yang dipancarkan pada tahun 1750 sudah terjadi dalam 40 tahun terakhir ini. 

Tercemarnya Wabah Demam Berdarah Anak Hingga ke Amerika Serikat 

Dengue sudah menjadi virus yang ditularkan oleh hewan Nyamuk pada pertumbuhan tercepat di dunia, dan saat ini bisa membunuh sekitar 10.000 orang dan bisa mempengaruhi sekitar 100 juta untuk per tahunnya. Pada saat Suhu Global ini meningkat, nyamuk Aedes Aegypti atau nyamuk Demam Berdarah yang membawa penyakit ini bisa berkembang di tempat-tempat yang sebelumnya tidak akan pernah cocok bagi mereka dan bisa mendapatkan manfaat dari periode Inkubasi yang jauh lebih pendek adanya. Disini juga ada sebuah studi yang kami kutip langsung dalam situs merdeka.com, yang aman sebelumnya sudah diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah Nature yang memperingatkan bahwa, di dunia yang memanas demam berdarah bisa menyebar ke negara Amerika Serikat. Ketinggiannya juga lebih tinggi di Meksiko Tengah, pedalaman Australia dan ke kota-kota pantai Besar yang berada di Cina Timur dan Jepang. 

nah itulah yang bisa kami berikan pada part 1 ini. jika ada kesempatan, kami berikan fakta selanjutnya di next artikel., terima kasih…