Apakah Ini Semua Teori Dasar dari Pembentukan Bumi ?

Bumi sudah menjadi dasar dari tempat tinggal bagi manusia dan makhluk hidup lainnya ( bisa berbentuk tumbuhan, hewan dan benda mati juga ada ). Dalam Tata Surya bahwa dijelaskan juga jika Bumi masuk sebagai planet ketiga dari Matahari setelah Merkurius dan juga Venus. Sampai dengan saat ini, bahkan belum sama sekali ditemukan pada planet lain yang memiliki tanda-tanda dari makhluk hidup yang ada di dalamnya selain Bumi. Namun apakah kalian pernah memiliki pikiran tentang teori dasar dari pembentukan Bumi itu seperti apa ? …

Seperti halnya alam semesta yang kalian pijak ini, tentu saja Tata Surya dan juga Bumi sudah memiliki awal mula dari pembentukannya. Karena memang hal ini tidak bisa diamati maupun diuji melalui eksperimen. Disini para Ilmuwan sudah mengemukakan teori dasar mengenai adanya pembentukan dari bumi. Dimana untuk saat ini, sudah banyak sekali teori pembentukan bumi yang umum didengar. Sekiranya 5 Teori ini akan kami bahas dan sudah menjadi hal umum dipelajari. Teori apa saja yang sebenarnya kami maksudkan ? … langsung saja kalian cek sekarang juga pada bacaan yang ada di bawah ini.

Pembentukan Bumi dari Teori Nebula { Kabut } 

Teori pertama yang bisa kalian pelajari adalah Teori Nebula atau Kabut. Dimana teori ini sudah dikemukakan oleh 2 Ilmuwan yang bernama : Immanuel Kant pada tahun 1753 silam dan juga Piere de laplace pada tahun 1796 silam. Teori Nebula juga lebih dikenal sebagai teori Kant-Laplace. Teorinya sendiri mampu memaparkan bahwa langit dan juga Tata Surya ini berawal dari kabut lebih dahulu. Kabut tersebut sudah terisi oleh mpo slot gas Hidrogen dengan sendirinya. 

Suatu waktu, kabur ini sudah berproses dan berputar dengan sangat amat kencang. Jika bisa digambarkan, mungkin saja seperti sebuah pusaran angin. Nah dari sanalah, sudah mulai terbentuklah bulatan yang besar, dengan memiliki gaya dari Gravitasi yakni : Matahari. Kabut lainnya sudah berproses juga dengan cara yang sama. Maka jadilah planet-planet dan salah satunya adalah Bumi yang sampai detik ini menjadi tempat tinggal kita semua ini. Nah untuk teori ini, apakah kalian cukup percaya ? … 

Pembentukan Bumi dari Teori Pasang Surut Gas atau Tidal 

Selanjutnya ada teori pasang surut gas. Dimana teori yang satu ini sudah dikemukakan oleh James Jeans dan juga harold Jeffrey sejak tahun 1918. Nah pada teorinya sendiri, mereka mampu mengatakan bahwa ratusan juta tahun yang lalu sudah ada sebuah bintang yang mana mendekati posisi dari Matahari. Akibatnya, telah terjadi pasang surut pada tubuh Matahari yang menyebabkan terbentuknya gunung-gunung super raksasa pada tubuh matahari itu. 

Gunung-gunung ini bisa membuat sebuah lidah pijar dengan merentang panjang. Lalu lidah pijar ini juga membentuk prapatan dari gas-gas yang kemudian bisa terpecah belah. Akhirnya disini terbentuklah benda-benda yang kita kenal sampai detik ini sebagai planet yang bernama BUMI salah satunya ! 

Pembentukan Bumi dari Teori Big Bang 

Bukan boyband Korea ya guys, tapi Big Bang ini menjadi teori yang paling populer dan sudah ditemukan paling akhir oleh para ilmuwan. Nah dalam teori ini sendiri telah dikemukakannya bahwa Tata Surya tidak benar-benar terjadi dengan sendirinya, namun masih melalui sebuah proses selama miliaran tahun lamanya. 

Teori ini juga sudah menyebutkan bahwa masih ada sebagian besar yang membentuk cakram raksasa. Dimana cakram raksasa ini meledak dan membentuk lah Nebula atau Asap. Nah Asap ini kemudian sudah mendingin kurang lebihnya selama 4.6 Miliar Tahun. Dari adanya proses ini, akhirnya terbentuk juga Bima Sakti. Namun dari bagian-bagian kecil atas kabut  raksasa yang mendingin dan memadat sampai akhirnya menjadi planet-planet, dan salah satunya bumi yang sampai detik ini bisa kita semua tempati. 

Pembentukan Bumi dari Teori Bintang Kembar 

Selanjutnya, pembentukan dari bumi juga sudah didasari langsung oleh Teori Bintang Kembar. Dimana untuk Teori inu sendiri pertama kali sudah dicetuskan langsung oleh seorang ahli astronomi yang bernama Raymond Arthur Littleton. Dimana menurut dirinya ini, Galaksi masuk sebagai kombinasi dari Bintang Kembar. 

Nah salah satu bintang tersebut diketahui meledak dan pada akhirnya bisa menyebabkan banyak sekali material yang terlempar kemana-mana. Karena memang bintang yang tidak meledak sudah memiliki gaya gravitasi sangat kuat, mengakibatkan sebaran dari ledakan bintang lainnya mampu mengelilingi bintang tersebut. Nah bintang yang tidak meledak ini kemudian bisa dikenal dengan Matahari, sementara itu pecahan-pecahannya sendiri adalah planet yang telah mengelilinginya. 

Pembentukan Bumi dari Teori Planetesimal 

Ini menjadi teori terakhir yang mana masuk sebagai pembentukan dari planet Bumi. Teorinya sendiri sudah dikemukakan langsung oleh Forest Ray Moulton, dimana itu adalah seorang Astronom Amerika dan juga Thomas C Chamberlin sang ahli Geologi pada tahun 1916 silam. Di dalam teorinya ini, mereka berdua sudah mengemukakan jika matahari memang sudah ada lebih dahulu sejak awal. 

Suatu ketika, terdapat sebuah bintang yang jauh lebih besar ketimbang ukuran dari sebuah Matahari yang mendekati Matahari tersebut. Hal inilah yang mampu mengakibatkan terjadinya sebuah daya tarik pada pasang Matahari. Sehingga sudah ada sebagian materi matahari yang terlepas begitu saja dan bertebaran pada orbitnya. 

Dari sini lama kelamaan, material tersebut sudah menyerupai lidah api raksasa dan bisa menjauh dari matahari. Namun material-material yang kecil ini, sudah tersapu langsung oleh material yang lebih besar kemudian bisa bersatu dan berputar-putar pada orbitnya. Pada akhirnya, mulai terciptalah planet-planet dari material tersebut, salah satunya bumi yang sampai detik ini kita tempati. 

Itu dia 5 teori populer yang mendukung adanya pembentukan dari planet Bumi ini. Jauh lebih besar dari ini, teorinya juga memang sudah menjelaskan bagaimana proses dari terjadinya alam semesta dengan tata surya. Setelah membacanya, apakah kalian ini golongan yang meaning yakin tentang teori ini ? atau justru kami memiliki pikiran logis lainnya, ketika ada suatu saat nanti seorang ilmuwan baru yang akan mampu memberikan teori berbeda lainnya ? …. 

Namun dari sumber berbeda kami juga sudah menemukan adanya Teori tambahan yakni Teori Keadaan Tetap. Dimana teori ini dikemukakan langsung oleh  Sir Fred Hoyle, Thomas Gold dan juga Sir Hermann Bondi yang mana sangat bertolak belakang sekali dengan lahirnya teori Big Bang. dalam teori keadaan tetap ini, “ alam semesta selalu saja tampak sama dari awal dan tiak akan pernah berakhir “ .. memang semua materi yang ada di alam semesta ini terus saja mengembang dan bergerak menjauh dengan menciptakan ruang kosong di dalamnya. Namun ada juga ruang kosong ini diisi oleh materi baru sehingga, materi-materi tersebut akan membentuk galaksi yang baru. 

Dasar dari munculnya teori keadaan tetap ini adalah adanya prinsip dari Kosmologi sempurna yang menyatakan jika alam semesta di manapun dan juga kapan pun akan tetap saja sama. Hal ini sudah didukung oleh hasil dari penemuan galaksi yang baru dengan massa yang sama juga dengan galaksi yang bergerak menjauh. 

Fakta Atas Perbedaan Bumi Dulu dengan Bumi Kini !

Bumi ini masih saja menjadi satu-satunya planet di Galaksi Bima Sakti yang mana sudah diakui menjadi tempat teraman dan juga sangat ternyaman yang bisa saja dihidupi oleh umat manusia. Bumi sendiri memiliki oksigen – lalu Air dan juga seluruh makhluk hidup lainnya yang memang bisa saja membuat manusia melangsungkan kehidupannya. 50 tahun yang lalu, pada tanggal 22 April tahun 1970, maka jutaan orang turun ke jalan pada Hari Bumi Pertama, menuntut adanya udara bersih perlindungan lingkungannya. Disini partisipasi dari warga besar-besaran, sekitar 10% dari adanya populasi Amerika Serikat pada saat itu, mengarah saja pada undang-undang Udara bersih dan undang-undang perlindungan dari lingkungan lainnya. Kemudian pada akhirnya di setiap tahun pada tanggal 22 April, Hari Bumi menandai peringatan kelahiran gerakan lingkungan Modern pada tahun 1970. 

Hari Bumi tahun 1970 sudah menyuarakan kesadaran publik yang muncul saja tentang keadaan planet kita. Perubahan dari Iklim ini terus saja sering terjadi seiring atas waktu akibat adanya pemanasan global yang dipicu kehidupan untuk era industrinya. Lalu bagaimana dalam keadaan bumi dahulu dibandingkan sekarang akibat dari adanya pemanasan Global ? untuk itu ada beberapa fakta yang mendukung atas perbedaan bumi dulu dengan bumi kini. Fakta ini kami kutip dari salah satu sumber yakni merdeka.com, jadi langsung saja lihat detail faktanya di bawah ini : 

Peningkatan Suhu Bumi Selalu Terjadi 

Dari situs Wired, San Francisco, British Columbia dan juga Delhi yang dikutip oleh situs merdeka.com, semuanya telah melaporkan rekor suhu sepanjang bulan Juni pada tahun 2019, dimana telah menunjukkan adanya gelombang panas mulai terjadi lagi di belahan bumi Utara pada musim panas ini. Dan pada tahun 2018 silam, negara Inggris sudah mengalami musim panas sejak tahun 2006 dan Studi Ilmiah  ke dalam data tahun 2018 menunjukkan bahwa Gelombang panas saat ini sudah sebesar 30 kali lebih akibat dari perubahan iklim. 

Namun dari negara-negara Subtropis  ini tak hanya mengalami kenaikan suhu di musim panas saja. Temperatur 21,2 derajat Celcius di rekam langsung di Kew Gardens London pada tanggal 26 Februari tahun 2019. Dan ini sudah menjadi hari musim dingin namun terpanas yang pernah dialami oleh negara Inggris. Salah satu efek yang dikatakan cepat serta nyata adalah adanya pemanasan Global pada peningkatan suhu yang ada di seluruh dunia. Suhu Global ini rata-rata sudah meningkat sekitar 1,4 derajat F atau 0,8 derajat Celcius dalam kurun waktu 100 tahun terakhir. Informasi ini didapati dari Administrasi Kelautan maupun Atmosfer Nasional atau NOAA. 

Sejak adanya pencatatan yang dimulai pada tahun 1895, dimana ini menjadi tahun terpanas di rekor dunia yakni pada tahun 2016. Dan menurut dari data NOAA dan juga NASA. tahun itu suhu pada permukaan bumi mencapai 1,78 derajat F atau 0,99 derajat C. berarti ini lebih hangat dari rata-rata di seluruh abad ke-20. 

Menurunnya Populasi Satwa Liar 

Ukuran atas rata-rata pada populasi Vertebrata seperti : Mamalia – Ikan – Burung dan juga Reptil, seketika menurun sebesar 60% di antara tahun 1970 dan juga tahun 2014. Hal ini kami kutip dari situs merdeka.com yang aman dilansir juga dari Living Planet Report. Hal ini bukan berarti dari total populasi hewan sudah menurun sampai dengan 60%, dikarenakan laporan ini sudah membandingkan penurunan relatif dari populasi hewan yang berbeda. Bayangkan saja, jika populasi dari 10 badak yang mana 9 dari badak ini mati maka akan ada penurunan Populasi sebesar 90%. 

Masukan ini ke dalam populasi 1.000 burung pipit yang mana 100 dari mereka seketika mati, maka 10% akan mengalami penurunan. Penurunan atas rata-rata populasi dari kedua kelompok hewan ini akan berlangsung menjadi 50% meskipun, sudah kehilangan Individunya sebesar 10,08 %. Apapun cara kalian menumpuk angkanya, maka perubahan dari iklim jelas saja menjadi faktor dalam hal ini. Nah sebuah panel ilmuwan internasional yang sudah didukung oleh PBB mengeluarkan pendapat bahwa perubahan dari iklim sudah memainkan peran yang meningkat dalam mendorong spesies menjadi punah. 

Hal ini sudah dianggap sebagai pendorong terbesar ketiga hilangnya keanekaragaman hayati setelah perubahan dari penggunaan lahan maupun laut, serta dari eksploitasi sumber daya yang berlebihan. Bahkan di bawah skenario pemanasan 2 derajat C, ada 5% Spesies hewan maupun tumbuhan yang akan menghadapi resiko kepunahan. Terumbu karang juga sangat amat rentan terhadap sebuah peristiwa pemanasan yang ekstrem. 

Ternyata Atmosfer memiliki Jumlah Karbondioksida Terbanyak 

Waktu Bulan Mei silam, sensor yang ada di observatorium Mauna Loa di Hawai, sudah melacak adanya konsentrasi atas Atmosfer CO2 di bumi dari akhir tahun 1950 an. Mendeteksi sudah konsentrasi atas CO2 sebanyak 415,26 ppm. Ini menjadi peningkatan sebesar 46% dari sebelum Revolusi Industri pada tahun 1800 an. Ketika tingkat dari CO2 sekitar 280 bagian per jutanya. Tingkat mulai meningkat lagi ketika manusia sudah mulai untuk membakar sejumlah bahan bakar fosil hanya untuk menjalankan pabrik dan juga memanaskan rumah, melepaskan adanya CO2 dan gas rumah kaca lainnya ke atmosfer. 

Terakhir kalinya atmosfer di bumi sudah mengandung COO2 sebanyak lebih dari 300 juta tahun lalu, pada saat permukaan laut beberapa meter jauh lebih tinggi dan pohon-pohon justru mulai tumbuh di daerah Kutub Selatan. Para Ilmuwan juga sudah memperingatkan bahwa jika kadar dari Karbon Dioksida ini jauh lebih tinggi 450 ppm kemungkinan sudah akan mengunci perubahan atas bencana  dan juga keadaan tidak akan pernah bisa kembali dalam iklim. Sekitar setengah dari CO2 yang dipancarkan pada tahun 1750 sudah terjadi dalam 40 tahun terakhir ini. 

Tercemarnya Wabah Demam Berdarah Anak Hingga ke Amerika Serikat 

Dengue sudah menjadi virus yang ditularkan oleh hewan Nyamuk pada pertumbuhan tercepat di dunia, dan saat ini bisa membunuh sekitar 10.000 orang dan bisa mempengaruhi sekitar 100 juta untuk per tahunnya. Pada saat Suhu Global ini meningkat, nyamuk Aedes Aegypti atau nyamuk Demam Berdarah yang membawa penyakit ini bisa berkembang di tempat-tempat yang sebelumnya tidak akan pernah cocok bagi mereka dan bisa mendapatkan manfaat dari periode Inkubasi yang jauh lebih pendek adanya. Disini juga ada sebuah studi yang kami kutip langsung dalam situs merdeka.com, yang aman sebelumnya sudah diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah Nature yang memperingatkan bahwa, di dunia yang memanas demam berdarah bisa menyebar ke negara Amerika Serikat. Ketinggiannya juga lebih tinggi di Meksiko Tengah, pedalaman Australia dan ke kota-kota pantai Besar yang berada di Cina Timur dan Jepang. 

nah itulah yang bisa kami berikan pada part 1 ini. jika ada kesempatan, kami berikan fakta selanjutnya di next artikel., terima kasih…

Apakah Pemanasan Global bisa Mempercepat Es Dunia Meleleh ?

Layaknya sebuah seni musik yang memiliki nada, Sekelompok Ilmuwan pada perubahan iklim dari berbagai penjuru dunia bermain langsung pada beberapa harmoni yang menjadi satu dengan kompeten-kompeten, dan Integritas serta konsisten ini terjadi sejak tahun 2015 silam. Tercatat sudah ada 104 ilmuwan dari 36 negara dan juga terdapat 6.981 artikel dari penelitian yang di sigi serta bisa menguak Dampak pada Pemanasan Global terhadap adanya laut, Kriosfer dan juga Manusia. Laporan setebal 1.300 halaman ini sudah dirilis pada tanggal 25 September 2019 di negara Monaco. 4 hal ini sendiri peru sekali dicermati oleh Indonesia mengenai laporan khusus IPCC mengenai laut, Kriosfer dan juga perubahan atas iklim ini mendasari Kriosfer tersebut terancam. Dan untuk ancaman dari kenaikan muka air laut ; pada ekosistem laut terancam punah ; dan tentu saja masa depan laut serta manusia akan terancam dari segala Aspek yang ada. 

Masalah pada Kriosfer Terancam 

Untuk Kristofer sendiri menjadi sebuah Zona Planet mpo slot Bumi yang membeku, misalnya saja pada lapisan ES yang ada di Greenland dan juga Antartika, Gunung ES yang berada langsung di lautan, Gletser ES di Pegunungan yakni Puncak Jayawijaya, lalu Salju, ES dan juga di danau serta lautan Kutub sampai pada deretan membeku di wilayah Arktik yang dikenal langsung sebagai Permafrost. 

Jika nantinya Kriosfer ini semakin menyusut, lapisan Salju juga berkurang, adanya Gletser  dan juga lapisan Es menjadi mencair maka Permafrost juga akan semakin berkurang. Ini semua dari Laporan IPCC yang mengatakan langsung bahwa adanya percepatan pelelehan, dengan potensi yang jauh berbahaya bagi kehidupan manusia. Nah untuk Bumi ini sendiri sangat rentan dalam kehilangan yang jauh lebih dari setengah perfarmost pada akhir abad ke 21. Permafrost ini sendiri sangat mampu untuk menyimpan Karbon yang sudah berada langsung di Atmosfer hampir 2 kali lebih banyak pastinya. 

Es lautan juga akan semakin berkurang secara cepat dan Kutub Utara Bumi tanpa kehadiran dari Es yang akan menjadi pemadnangan biasa disaat musim panas tiba. Suku Eskimo yang tinggal di wilayah Arktik ini juga sudah mulai dalam beradaptasi dengan mengubah langsung cara mereka dalam berburu dan juga bepergian bahkan dari beberapa komunitas di pesisir, juga sudah mulai memikirkan rencana dalam melakukan relokasi. 

Populasi dari Fauna seperti halnya Anjing Laut, Walrus dan tentunya Beruang Kutub serta beberapa mamalia lainnya yang dengan jelas bergantung kepada pemakaian dari Es kemungkinan sekali akan menurun dengan sangat drastis apabila sudah tidak kemungkinan tidak ada es lagi. Dan berkurangnya air ini akan mempercepat pemanasan Global, dikarenakan memang air yang jernih serta bening akan jauh lebih efektif memantulkan panas dari matahari. 

Gletser sendiri akan meleleh, dan jika Emisi ini tetap saja berlanjut seperti kondisi saat ini. Maka jauh lebih dari 80% Gletser Kecil ini akan menghilang hingga akhir abad ke 21. Dan tentu saja akan berdampak bagi penduduk bumi yang bergantung kepada Gletser untuk air, pertanian dan juga untuk energi yang ada. 

Ancaman dari Kenaikan Muka pada Air Laut 

Hampir ¾ dari permukaan bumi ini ditutupi langsung oleh adanya lautan, dan untuk 10% nya sendiri ditutupi pada lapisan Es serta Gletser. Jika seluruh es ini nantinya meleleh maka, otomatis muka air laut juga akan semakin meningkat saja. Muka air laut ini secara Global memang bisa bertambah 2x lipat jauh lebih cepat dan akan terus meningkat secara pesat. Lewat sebuah penelitian, disini terdapat peneliti dari berbagai negara untuk dipahami jauh lebih baik dengan bagaimana lapisan Es Antartika serta Greenland berinteraksi dengan lautan itu sendiri. 

Kutub Utara Memanas, Gletser Jadi Mencair dan Memunculkan 5 Pulau Baru -  Semua Halaman - Bobo

Estimasi mengenai muka air laut yang akan naik, ini semua sudah diprediksi bisa mencapai tinggi antara  60 dan juga 100 cm di tahun 2100 nanti. Intensitas dari adanya curah hujan serta siklon inilah yang akan dikontrol oleh mesin iklim bumi. Peranannya sendiri akan berkontribusi langsung dalam meninggikan adanya air sampai dengan beberapa sentimeter dari level normal yang ada. Badai ekstrim ini akan sering terjadi di setiap tahun pada abad pertengahan yakni 21. 

Selain adanya pendanaan untuk menurunkan emisi ini, penduduk bumi juga sudah harus mempertimbangkan adanya sebuah pendanaan demi melindungi pantai dan juga daerah lainnya dari Banjir Rob yang bisa menimbulkan korban jiwa. Diperhitungkan ada sekitar 45 Juta jiwa di Indonesia yang memang rentan sekali terkena akibat, tinggalnya memang di pesisir pantai pada ketinggian di bawah 10 meter. 

Laut Akan Mengalami Kepunahan Terhadap Ekosistemnya 

Sebagai sebuah komponen dari mesin Iklim Bumi, maka laut ini sudah menyerap langsung lebih dari 90% kelebihan panas. Pemanasan laut yang sering kali terjadi pada saat Stratifikasi dan juga mengurangi adanya percampuran antara lapisan air. Yang dampaknya sendiri pada pasokan oksigen dan juga nutrien bagi kehidupan laut yang semakin berkurang saja. 

Laut sendiri harus menyerap panas antara lima sampai dengan 7x jauh lebih besar dibanding apapun itu di tahun 2100 ketimbang adanya 50 tahun belakangan jika memang manusia tidak dapat mengubah produk emisinya. Selain laut memanas, berkurangnya lagi sebuah pasokan oksigen yang mana lautan akan bertambah asam akibat terus menerus harus menyerap kelebihan dari Karbon Dioksida yang diproduksi langsung oleh manusia. 

Akumulasi beberapa tekanan tersebut juga langsung mengancam adanya keberadaan kehidupan laut secara Global. Beberapa spesies mungkin harus bisa dipindahkan pada zona laut yang memang baru, namun yang lain mungkin saja tidak bisa dengan cepat untuk beradaptasi dan akhirnya bisa punah begitu saja. 

Penduduk bumi juga sebenarnya harus beradaptasi dengan berbagai masalah yang memang muncul, paling utama sekali yang langsung bergantung kepada makanan laut. Terumbu Karang, lalu ekosistem yang bisa menyokong adanya kehidupan laut supaya membaik bagi ribuan spesies ini memang pada akhirnya akan terancam punah setidaknya si pada akhir 21. 

Akhir dari Masa  Depan Laut dan Manusia 

Dari sini penduduk bumi harus sadar, bahwa  ancaman dari kenaikan muka air laut dan juga melelehnya es di kutub utara akan jauh lebih cepat lagi ketimbang yang sudah diprediksikan langsung oleh adanya Laporan IPCC. laporan dari penelitian terbaru juga memperlihatkan kondisi darurat masa depan laut dengan Kriosfer. Terutama sekali  jika penduduk bumi ini tidak banyak berbuat apapun itu. 

Perbedaan di antara kenaikan suhu yakni 1,5 derajat C dan juga 2 derajat C yang sangat amat krusial sekali  bagi keberadaan kedua kutub di bumi ini. Jika memang suhu pemanasannya 1,5 derajat C maka bisa diprediksi, kemungkinan sekali tidak ada es pada bulan September di Kutub Utara – Arktik kemungkinannya hanya 1 : 100 saja. Namun jika semuanya justru pada kenaikan 2 derajat C, maka prediksi dari hilangnya ES ini bisa saja terjadi dengan perbandingan 1 : 3 saja. 

Bisa dikatakan untuk masyarakat yang ada di seluruh dunia akan benar-benar mengalami hilangnya sumber daya air, lalu mengalami banjir serta tanah longsor, menghadapi adanya perubahan di dalam penyediaan dari pasokan pangan dan mampu menyaksikan terjadinya degradasi ekosistem laut – infrastruktur – rekreasi dan juga budaya. Upaya dari adaptasi yang radikal ini akan benar-benar membantu untuk mengulur waktu dari berbagai macam komunitas. 

Mengubah adanya praktik pengelolaan perikanan bisa membantu mempertahankan adanya populasi Ikan serta Kerang. Selain itu Melindungi Mangrove dan juga Padang Rawa payau bisa membantu melindungi pantai dari ancaman meningkatnya gelombang Badai dan juga Banjir Rob. Investasi dalam sistem peringatan ini benar-benar bisa membantu masyarakat pesisir menghadapi bencana alam. 
Batas dari adanya adaptasi manusia sangat amat jelas, dan juga menyimpan banyak sekali dampak yang masih terus saja terjadi bahkan jika benar-benar emisi ini berkurang. Beberapa negara pulau seperti halnya mampu untuk tidak dihuni dikarenakan adanya kenaikan dari permukaan laut itu sendiri. Bahkan jika memang benar pemanasan ini dibatasi sampai pada 1,5 derajat C maka, beberapa komunitas seperti yang ada di sepanjang pantai ini tidak akan mampu atau tidak sanggup untuk beradaptasi langsung pada semua dari dampak Iklim itu sendiri.

Jaga Bumi dengan Memanfaatkan Penghijauan Lingkungan

Sebagaimana yang kita ketahui dalam kehidupan kita sangat memakai prinsip simbiosis mutualisme, dimana semua makhluk hidup termasuk tumbuhan sangat saling ketergantungan. Semuanya mempunyai peranan masing masing dalam menjaga keseimbangan. Seperti manusia dengan lingkungannya. Sebagaimana kita ketahui semua tanaman melakukan fotosintesis untuk mengubah Co2 menjadi O2 dengan cara menghirup Co2 dan melepaskannya menjadi O2. Hasil fotosintesis tersebutlah yang membuat kita sebagai manusia sangat bergantung kepada tanaman atau lingkungan yang hijau. Semakin banyak tanaman atau semakin banyaknya pepohonan yang tumbuh, itu berarti kita sebagai manusia masih menghirup udara yang bersih dan segar.

Penghijauan lingkungan adalah peran utama manusia dalam menjaga lingkungannya. Penanaman pohon pada lahan lahan tanah kosong adalah salah satu bentuk penghijauan. Selain memberikan kesan yang asri dan indah, penanaman pohon juga memberikan dampak yang sangat baik bagi lingkungan, karena pohon yang kita tanam akan membantu kita dalam mengatasi masalah polusi dan memberikan oksigen bagi manusia. Selanjutnya kita akan membahas tentang apa saja manfaat dari penghijauan.

Pencegahan Erosi

Erosi tanah adalah peristiwa peristiwa pengikisan padatan akibat transportasi angina, air atau es. Erosi tidak sama dengan pelapukan akibat cuaca, yang mana merupakan proses penghancuran mineral batuan dengan proses kimiawi maupun fisik. Oleh karena itu salah satu manfaat penghijauan adalah mencegah terjadinya erosi tanah. Sebagaimana yang kita ketahui Indonesia adalah negara yang beriklim tropis yang artinya cuaca di negara ini termasuk panas. Yang mana bisa mengakibatkan tanah tandus, kekeringan , kebakaran hutan dan lain sebagainya. Oleh karena itu dengan penghijauan, pepohonan yang kita tanam akan membantu kita dalam menghalang angin dan melemahkan kecepatan angin dalam kemampuan membawa partikel yang besar dari tanah. Akar pada pohon berfungsi agar tanah tidak terbawa air jikalau terjadi banjir.

Udara Yang Segar

Salah satu manfaat penghijauan lainnya adalah udara yang segar. Dengan banyaknya pohon yang kita tanam semakin baik kualitas udara yang kita hirup, oksigen yang diproduksi oleh pohon akan semakin baik. Pohon memiliki peranan penting dalam pemurnian udara, bagi kalian yang tinggal di lingkungan yang banyak ditumbuhi pepohonan memiliki resiko lebih kecil memiliki penyakit yang berhubungan dengan udara. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa aktivitas yang kita lakukan juga menghasilkan karbon dioksida seperti, mengendarai motor, membakar fosil dan kegiatan industry.

Selain itu aktivitas manusia juga berdampak pada berkurangnya jumlah pohon dan hutan. Dengan kebutuhan produksi pada suatu industri mengharuskan menebang pohon bahkan mengakibatkan kegundulan pada hutan. Banyak juga aktivitas manusia yang menyebabkan polusi pada udara salah satunya adalah pelebaran lahan dengan cara membakar hutan dan segala macam.

Melindungi Daerah Aliran Sungai

Manfaat selanjutnya adalah memperbaiki kualitas air. Sebagaimana kita ketahui bahwa manusia takkan bisa hidup tanpa air, dan untuk sekarang ini banyak daerah yang mengalami pencemaran dalam perairan lingkungannya. Di kota kota besar masalah kualitas air sangatlah menjadi masalah utama, bahkan untuk mendapatkan air yang jernih dan bersih mereka harus mengeluarkan dana yang bisa terbilang tidak murah. Oleh karena itulah kita sebagai manusia mempunyai peran penting dalam menjaga lingkungan agar kita bisa menghirup udara yang segar dan mengkonsumsi air yang bersih.

3 Manfaat Hutan Sebagai Solusi Bagi Krisis Air Dunia | WRI Indonesia
Aliran Sungai di Hutan dengan Air yang Jernih

Bagi kita yang masih tinggal di pedesaan mungkin hal ini tidak terlalu berdampak dengan kita, tapi bagi mereka yang tinggal di kota kota besar ataupun mereka yang tinggal di bagian daerah yang bisa dibilang memiliki sedikit pepohonan ini akan sangat berdampak bagi kehidupan mereka. Penghijauan adalah kunci dari semua yang kita butuhkan dalam kehidupan sesama makhluk hidup. Oleh karena itu pemerintah pun sudah melakukan berbagai upaya dalam mencegah dan mengurangi kekeringan. Perlu kesadaran bagi setiap manusia bahwa penghijauan itu sangatlah penting .

Lestarikan Satwa Liar

Pernahkah kalian melihat satwa liar saat bepergian keluar kota ? nah itu adalah salah satu dampak dari berkurangnya hutan pada daerah tersebut. Karena pembangunan kota dan perkebunan yang dulunya adalah rumah bagi para satwa liar tersebut. Kota tersebut berkembang tapi tidak memikirkan dampak dari hal tersebut. Untuk kondisi yang lebih ekstrim adalah kepunahan. Dengan penghijauan ini kita bisa membantu pelestarian satwa liar, dengan menanam pohon yang nantinya akan berguna bagi satwa liar. Dengan banyaknya pohon maka ketersediaan tempat tinggal dan makanan akan lebih terjamin untuk satwa liar.

Iklim Terkontrol

Manfaat selanjutnya adalah pengontrol iklim. Indonesia adalah negara tropis yang artinya Indonesia memiliki iklim yang panas. Dengan kondisi bumi yang semakin tua dan ditambah dengan polusi yang disebabkan oleh manusia itu sendiri. Kita pasti pernah terheran dengan cuaca yang ekstrim, perubahan yang sangat signifikan yang terjadi secara tidak teratur, tiba tiba panas dan tiba tiba hujan. Dengan penghijauan kita bisa membantu alam. Banyaknya pohon udara yang tercemar bisa dinetralisir sehingga iklim yang terjadi tidak terlalu ekstrim.

Ekosistem Baru

Lembaga yang bergerak dalam bidang lingkungan dan sumber daya pasti mengupayakan penghijauan. Karena setiap orang yang menanam pada hutan yang menipis maka mereka membantu memperbaiki ekosistem pada hutan tersebut, sedangkan kalau kalian menanam pada hutan yang tandus maka kalian membantu menciptakan ekosistem yang baru pada hutan tersebut. Dengan penghijauan inilah kita membantu satwa liar mendapatkan ekosistem yang baru atau rumah yang baru.

Mengurangi Resiko Banjir dan Pupuk Alami

Masalah yang satu ini sepertinya tidak asing lagi bagi kita. Di Indonesia ini menjadi salah satu PR bagi pemerintah di kota kota besar, terdapat banyak bendungan tapi tetap terjadi banjir. Terjadinya banjir tidak luput dari kesalahan manusia itu sendiri, kelalaian terhadap lingkungan buang sampah sembarangan, terlalu banyak pembangunan dalam kota dan sedikitnya pohon yang ada dalam lingkungan tersebut. Manfaat penghijauan juga bisa mengurangi resiko terjadinya banjir, karena semakin banyak pohon itu berarti semakin banyak alat penyerap air, karena itulah fungsinya akar dari pepohonan.

Dengan banyaknya pohon itu berarti banyak juga volume daun yang berguguran. Jangan salah persepsi dulu, daun yang berguguran bukan berarti itu hanyalah sampah, daun yang berguguran bisa kita olah kembali menjadi pupuk yang alami untuk tanaman lainnya. Jadi apapun yang berasal dari pohon bisa kita olah menjadi hal yang lebih berguna.

Pemandangan yang Indah

Apakah kalian pernah merasa lelah dengan hiruk pikuknya kota ? lelah dengan pemandangan bangunan tinggi setiap harinya, bisa dibilang sangat jarang melihat pemandangan hijau yang asri. Nah, salah satu manfaat dari penghijauan lainnya adalah pemandangan yang indah. Pemandangan yang indah dan segar dengan adanya pepohonan , sawah dan sungai. Pemandangan tersebut juga membantu kita dalam merelaksasikan pikiran yang ada.

Siklus Perkenalan Diri dengan Munculnya Bumi

Mengenal bumi yakni tempat kita berdiri akan terdiri langsung dari beberapa sistem bintang yang akan langsung disebut sebagai galaksi. Jadi setiap galaksi terdiri dari bermiliar-miliar bintang dan juga benda langit lainnya seperti planet. Dan salah satu galaksi yang kita tempati ini adalah Galaksi Bima Sakti atau disebutnya dengan Milky Way. 

Sebagai pengenalan saja, Bumi ini menjadi satu-satunya planet yang memang berbeda dengan planet lainnya di dalam ruang lingkup tata surya. Di Planet bumi sendiri terdapat kehidupan, dikarenakan bumi ini memiliki air serta atmosfer yang mengandung oksigen. Dan dari sinilah kondisi tersebut dapat memungkinkan sekali kehidupan bisa bertahan langsung di bumi ini. 

Planet Bumi yang saat ini kita tempati jika berada di luar angkasa, maka yang terlihat bentuknya seperti bola saja yang berwarna Biru. dan hal ini lantaran disebabkan langsung oleh sebagian besar permukaan bumi terdiri atas air. Lalu untuk sebarannya sendiri 70% yang meliputi air dengan hanya 30% daratan saja. Kebanyakan air ini sudah terdapat langsung dilaut dan sebagian lagi di sungai serta danau. Untuk dapat mengetahui lebih lanjut seputar bumi, maka langsung saja kalian simak baik-baik semuanya pada artikel yang satu ini. 

Melihat Asal Usul Pembentukan Bumi

Menurut para ahli, nyatanya Bumi ini sudah terbentuk langsung sekitar 4500 juta tahun yang lalu. Dimana terbentuknya bumi bersamaan dengan planet-planet lainnya di dalam tata surya. Untuk Matahari serta Planet yakni bumi pun berasal dari awan gas dan juga debu raksasa yang berputar-putar terdapat langsung di angkasa. Gumpalan dari awan gas dan juga Debu ini kemudian bisa meledak begitu saja. 

Pada akhirnya, ledakan ini menghasilkan adanya debu dan juga gas yang berputar-putar serta menggumpal. Dan Gumpalan awan gas dan juga debu yang berada di tengah menyusut karena memang tarikan dari gravitasi serta dapat membentuk matahari. Sebagian awan gas dan juga debu lainnya berputar langsung dalam mengelilingi matahari yang baru saja terbentuk dengan begitu bebas. 

Ketika adanya partikel debu saling bertumbukan, maka mulai muncul bentuk gumpalannya. Gravitasi menarik langsung gumpalan tersebut sampai benar-benar menciptakan bola api besar yang berputar. Setelah itu, elemen-elemen pada seperti halnya besi masuk ke bagian tengah bola apinya tersebut. Logam dengan bebatuan yang jauh lebih ringan naik ke permukaan bola dan mendingin membentuk kerak yang sangat padat serta keras. Lalu, gas-gas itu akan keluar dari Bola tersebut dengan membentuk atmosfer bersama awan. Ketika hujan sudah mulai turun, maka lautan ini akan terbentuk dan semakin lama bola tersebut maka jadilah sebuah planet yang sampai detik ini banyak dihuni oleh Manusia dan berbagai macam Makhluk bumi lainnya lagi. 

Melihat Awal Munculnya Kehidupan di Bumi 

Selama berjuta-juta tahun lamanya setelah terbentuknya bumi, nyatanya tidak ada kehidupan di bumi. Awal kehidupan di bumi bisa kalian ketahui dengan ditemukannya fosil bakteri yang berumur 3.500 juta tahun  lalu. Hal ini berarti makhluk hidup pertama yang mendiami bumi adalah Bakteri. Seperti Alga Hijau yang Kebiruan ini adalah salah satu organism awal dari kehidupan di bumi. Bakteri ini umumnya bisa untuk beradaptasi dalam berbagai kondisi dari air tawar dan juga air laut sampai dengan salju dan gletser di dalamnya. Bakteri akan bertahan dalam suhu yang emmang ternilai ekstrim. 

Beberapa bakteri diantaranya adalah menggunakan adanya energi matahari dalam membuat makanan mereka sendiri. Hal ini dilakukan oleh banyaknya Tanaman dan di dalam proses tersebut mereka semua akan melepaskan gas oksigen. Ketika munculnya bakteri pertama sekitar 350 juta tahun yang lalu, maka bakteri-bakteri ini mulai menghasilkan adanya oksigen yang perlahan-lahan bertambah langsung di udara. 

Oksigen ini sendiri akan langsung dikombinasikan dengan adanya bantuan besi pada batuan dalam menghasilkan satu batu besi. Dengan seiring berjalannya waktu, oksigen yang ada di udara ini bisa membuat munculnya binatang-binatang yang jauh lebih besar dan juga jauh lebih aktif seperti ini yang tidak akan mungkin bisa hidup tanpa adanya oksigen. Ada banyak sekali mitos-mitos tentang bumi ini sebenarnya jauh datar. 

Jika dilihat secara kasat mata, maka kalian akan melihat Bumi ini datar. Namun ada salah satu tokoh yang bisa membuktikan sebenarnya bumi kita ini Bulat. Tokoh tersebut bernama Ferdinand Magellan. Di tahun 1522 dirinya sendiri melakukan perjalanan dengan mengelilingi dunia dari perjalanan yang dirinya lakukan ini sudah terbukti bahwa bumi itu sebenarnya Bulat. Ferdinand Magellan sendiri sudah membuktikan bahwa untuk mencapai dunia Timur ini adalah dengan cara berlayar ke arah barat. Selain kepercayaannya dalam menyatakan Bumi itu beanr Bulat ! ada juga kepercayaan bahwa Bumi menjadi pusat langsung dari sebuah tata surya. Yang berarti, posisi Matahari disini dikatakan mengelilingi bumi itu sendiri. 

Kehidupan Di Bumi Dimulai 270 Juta Tahun Lebih Awal Dari Dugaan Sebelumnya.  - informasi ruang angkasa

Lalu anggapan tersebut juga langsung dibantah oleh Tokoh bernama Nicolaus Copernicus yang menjadi astronomi Modern. Disini para ahli astronomi terdahulu juga beranggapan bahwa matahari berevolusi dengan cara mengelilingi bumi, namun dirinya mengemukakan adanya gagasan teori yang sangat mengejutkan yakni : Bumi bersama dengan planet yang lainnya lah yang mengelilingi matahari itu sendiri. 

Karena hadirnya Teori tersebut, alhasil membuat marah dari para pemuka agama dikala itu. Dan dari hadirnya teori tersebut, benar-benar dilarang keras atau dikecam untuk disebarluaskan. Sehingga tahun 1600 ada seorang artonomi yunani yakni Galileo mendukung teori dari Copernicus dan dukungan terhadap teori tersebut membawa malapetaka dan membuat Galileo dihukum mati. Dan tahun 1830 silam, teori dari Copernicus ini diteliti dan kenyataannya disebutkan benar. Bahwa Revolusi bumi Matahari menjadi pusat dari tata surya dan bumi dengan isinya mengelilingi matahari. Bumi sendiri membutuhkan waktu 365,25 hari dalam mengelilingi Matahari tersebut. 

Bumi sendiri berputar langsung pada porosnya yang dimulai dari Kutub Utara hingga Kutub Selatan yang berarti melakukan rotasi. Bumi sendiri membutuhkan waktu kurang lebih selama 24 jam dalam satu hari dan bisa menyelesaikan putaran ke arah Kanan dari sumbu tersebut. Perputaran bumi yang terjadi pada porosnya ini bisa menyebabkan waktu Siang Berganti Malam dan begitupun sebaliknya. Bagian bumi yang sudah terkena matahari akan langsung mengalami siang, sedangkan untuk bagian bumi yang membelakangi matahari ini akan terjadilah waktu malam hari. 

Inilah lapisan-Lapisan dalam Bumi 

Terlepas dari Teori tersebut, Matahari sendiri memiliki beberapa lapisan yang diantaranya adalah Kerak Bumi, Mantel, Lapisan inti pada bagian tengah. Dan dari tiap lapisan ini akan memiliki unsur pembentuk yang berbeda-beda. Jarak dari antarmuka sampai ke lapisan inti sendiri adalah 6400 km dan lapisan bumi terluar disebutnya dengan Kerak Bumi. 

Untuk Kerak Bumi ini sendiri memiliki kurang lebih ketebalan antara 20 hingga 70 km. dan Kerak Bumi langsung terbagi atas 2 bagian yakni kerak Benua dengan kerak Samudera. Lalu untuk Kerak Bumi ini terdiri atas batu-batuan dan lapisan yang paling bawah sendiri berada di Kerak Bumi seperti Mantel. 

Mantel ini akan langsung saja terdiri dari batuan cair dan memiliki ketebalan hingga 2800 km. dengan Batuan Cair yang panas pada lapisan ini akan jauh meleleh dan nantinya bisa bergerak dengan sangat amat lambat. Lapisannya sendiri terbagi menjadi 2 yakni Inti dalam dan Inti Luar. lapisan inti dalam ini sangat amat panas dengan suhu bisa mencapai 7.000 derajat Celcius. 

Walau emmang panas logam pada lapisan itni ini tetap saja padat dikarenakan adanya tekanan yang kuat. Jadinya, ketebalan dari Inti dalamnya sekitar 1.300 KM. sedangkan untuk lapisan inti luar terdiri atas logam cair dan memiliki ketebalan yakni 2000 km. 

Selain itu terdapat Medan magnet. Dimana, logam besi yang ada di dalam Inti Bumi ini salah satu unsur pembentuk yang mana menciptakan medan magnet serta kutub magnetic tersebut.medan magnet tersebut memiliki fungsi untuk alat navigasi. Selain itu, memiliki fungsi juga sebagai pelindung utama bumi dari sinar kosmis yang sangat amat berbahaya dan berasalnya dari Matahari.